Pertama kali melihat berita itu di layar TV , aku sangat terkejut. Awalnya aku menduga itu adalah penangkapan buronan teroris setingkat Dr. Azhari, apalagi nampak jelas di layar kaca ada baku tembak antara aparat kepolisian dengan buronan. Suasananyapun hampir menyerupai saat penggrebekan Dr. Azhari. Maka wajar saja klo aku berpikiran itu adalah penggrebekan Noordin M Top, buronan teroris kelas kakap versi indonesia. Tetapi setelah lama aku perhatikan lagi ternyata itu adalah penggrebekan terhadap beberapa orang DPO pihak kepolisian Poso. Kaget campur geram saat mengamati berita itu. Bagaimana bisa kepolisian bertindak sampai seceroboh itu tanpa memperhatikan aspek psikologis warga Poso. Ingat warga Poso belum sepenuhnya percaya terhadap kepolisian, mereka masih curiga dengan tindakan-tindakan kepolisian yang dinilainya seringkali tidak adil. Baru saja tokoh agama dari kaum islam bersedia bekerjasama dengan pihak kepolisian dalam mewujudkan keamanan di Poso, eh malah mereka dihadiahi dengan peristiwa seperti itu. Gimana mereka mau percaya sama polisi jika tindakannya seperti itu. Maka jangan salahkan warga poso kalau keamanan makin menjauh dari bumi poso selama polisi masih bertindak represif seperti itu. Kali ini Polisi harus lebih intropeksi diri lagi..
January 16, 2007
January 17, 2007 at 5:34 am
memang seharusnya penggerebegak DPO gimana nus? kalau gak digrebeg, mereka malah menjadikan posos sebagai oase di tengah padang pasir, jadi lahan pelarian. semakin tidak aman poso, maka semakin amanlah mereka.
January 18, 2007 at 1:22 am
kakilangit: Masalahnya represif nggak nyelesaikan masalah.
Perintah tembak di tempat dari Polisi hanya akan menyebarkan teror, bukan rasa aman, dan itulah tujuan teroris.
Trus gimana?
Mene ke tehek…