Hampir semua stasiun TV menayangkan berita tentang orang-orang berjenggot, berkopiah atau sorban berkain sarung atau gamis, serta berteriak Allahu akbar sebagai sosok-sosok pembangkang, pengganggu kedamaian negeri ini. Perusak bangunan dengan ledakan di mana-mana, yang tak hanya mengguncang kota-kota besar di Indonesia, tapi juga mengguncang dunia.
Ustad Abubakar Ba’asyir adalah salah satu nama yang dikaitkan dengan teror-teror bom yang mengganggu ketenteraman bangsa ini. Beliau dituduh beraliran Islam garis keras yang tidak kenal kompromi, penghasut kaum muda pesantren, pemalsu identitas, bahkan beliau diposisikan sebagai pemimpin dari perusakan yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini.
Ada begitu banyak julukan negatif untuk Sang Ustad, sehingga terkesan seperti sosok yang menyeramkan yang siap menjerumuskan siapa saja dan kapan saja dengan bom mematikan di tangannya. Rasanya setiap dinding jadi bertelinga ketika ada pembicaraan tentang beliau. Bicara tentangnya saja takut, apalagi menemuinya. Menjenguknya di Rutan Salemba?
Wah ini agaknya suatu ide ‘aneh’ yang memerlukan nyali cukup besar. Jangan-jangan nanti kami bisa mendekam dalam sel karena dituduh ada hubungan dengan Sang Ustad. Bukan hanya pribadi Ustad yang membuat hati kempat-kempit, maju-mundur, dan berpikir ulang untuk datang ke LP, tapi ’seramnya’ penjara, sangarnya tahanan, serta kotornya administrasi yang mewarnai perjalanan kami untuk dapat masuk ke ruang kunjungan juga membuat semakin besarnya keraguan untuk sukses menemui Sang Ustad.
Ketakutan, kekhawatiran, kedongkolan, prasangka, dan curiga menyatu dengan semua keingintahuan, rasa penasaran, dan kenekatan yang semuanya bergulir bersama waktu hingga sampai pada saat yang kami sepakati, yaitu tanggal 4 Syawal untuk menjenguk, bersilaturrahmi dengan tokoh yang kontroversial itu. Sengaja kami memilih untuk menjenguk Ustad tak lama setelah Idul Fitri karena nurani masih berada di titik fitri sehingga mampu memandang Ustad dari titik nol.
Di halaman luar Rutan Salemba sudah hadir kurang lebih 30 orang yang ingin bersilaturahmi dengan Ustad Abubakar Ba’asyir. Kebanyakan dari mereka adalah keluarga santri pondok pesantren yang dipimpin ustad, partisipan biasa, dan kami sebagai kelompok orang-orang penasaran. Setelah menunggu kurang lebih 15 menit, proses pendaftaran peserta silaturahmi Ustad Abubakar Ba’asyir selesai.
Alhamdulillah dengan bantuan Allah kami berhasil masuk ke ruangan pertama untuk pemeriksaan barang bawaan kami, lalu ke ruang stempel seperti masuk Dunia Fantasi. Sementara menunggu, tikar untuk pengunjung ustad digelar, dengan sedikit menggeser gulungan kawat berduri pembatas. Terlihat cukup banyak toleransi dan kemudahan yang diberikan pada Sang Ustad sebagai napi yang dihormati dan disegani para petugas dan warga LP. Bahasa tubuh mereka menunjukkan bahwa mereka menjaga, melindungi, dan hormat pada Ustad.
Begitu pula dengan kami yang dengan tertib mengambil posisi duduk di tikar. Alhamdulillah kami dapat duduk di baris terdepan, hanya terpisah satu meter dengan Ustad, sehingga dapat melihat dan mendengar dengan jelas tiap ekspresi dan kata-katanya. Kerikuhan, kekakuan, dan kecemasan segera mencair oleh sapaan lembut dan ramah beliau.”Apa kabar? Dari mana saja ini?” tanyanya. Lalu, tanpa putus, rangkaian demi rangkaian pembicaraan terjalin. Beliau menjelaskan bahwa keadaan dalam LP cukup baik, sehingga ia dapat melakukan ibadah, aktivitas sosial, dan belajar mengajar dengan mudah.
Begitu pula kegiatan Ramadhan seperti sahur, taraweh, dan lain-lain berlangsung lancar. Ada beberapa hal yang disampaikan pada kami, di antaranya kemandirian dari zionisme yang zalim, waspada pada teror akhlak lewat tayangan televisi yang dapat merusak akhlak dan moral bangsa, jadilah orang kaya yang zuhud dengan banyak sedekah, hanya memenuhi kebutuhan hidup, bukan keinginan duniawi semata yang tak ada habisnya, berdoalah agar terbebas dari musibah iman dan belenggu dunia, dan hiduplah dengan mulia atau mati syahid.
Pertemuan kami ditutup dengan doa bersama yang dipimpim Ustad sambil menitikkan air mata kesungguhan agar Allah mengabulkan permohonan kami. Akhirnya, saya ingin menuliskan pendapat saya tentang pribadi Ustad Abubakar Ba’asyir. Ternyata beliau menghormati wanita, contohnya ia mendahulukan kami duduk karena tempat yang terbatas, cerdas menangkap isi pertanyaan kami, lugas dan tegas mengungkapkan pikirannya, menghormati perbedaan dan tidak sombong atau merasa paling benar, yang tercermin lewat pernyataan yang selalu mengiringi tiap pendapatnya: ”Mungkin saya yang benar, atau mungkin mereka yang benar, Allah-lah yang mengetahui sesungguhnya kebenaran itu”.
Beliau juga ramah terhadap tamu yang baru dikenalnya sekalipun, akrab tapi tetap menjaga hijab, lewat pandangan mata yang santun dan tidak mau bersentuhan dengan wanita. Lenyaplah kesan angker pada seseorang yang berprinsip teguh ini. Andai saja setiap hal dapat kami lakukan pembuktian langsung, maka akan terlihat murni bentuk aslinya dengan jelas, tanpa campur tangan orang lain yang memiliki perbedaan kepentingan dan sudut pandang. Mungkinkah sosok yang mencontoh akhlak Rasul ini adalah penghancur dunia? Wallahu a’lam bissawab. Semoga Allah selalu melindungi beliau, Amien.
Baria R Irfandi, Psi
sumber :http://swaramuslim.net/more.php?id=1330_0_1_0_M