Pengelola Harian Kompas – kadang diplesetkan sebagai akronim Komando Pastur– mungkin bertanya-tanya, mengapa media yang katanya mengemban misi Amanat Hati Nurani Rakyat itu kerap diposisikan sebagai ‘musuh’ oleh kalangan Islam? Padahal, di antara jurnalis dan karyawan Kompas banyak yang beragama Islam, dan ada juga di antara mereka adalah Muslimah berjilbab. Kegiatan keislaman Kompas pun cukup signifikan. Bahkan, ada komunitas Islam yang tergabung dalam majelis ta’lim, pernah membuat buku panduan ibadah haji bagi karyawan yang hendak menunaikan rukun Islam kelima itu. Tetapi, mengapa Kompas ‘dimusuhi’ dan dinilai sebagi agen perusak dan penyulut api sektarian?
HARIAN TERBIT edisi Sabtu 2 November 2002, halaman 7 pernah menurunkan berita bertajuk Karena Berjilbab, Istana Menolak. Seorang wartawati bernama Elly Roosita alumnus IPB yang sehari-harinya mengenakan jilbab, nyaris tidak bisa mengikuti lawatan rombongan Presiden Megawati ke KTT ASEAN di Kamboja 3-5 November 2002, gara-gara pakai jilbab.
Ketika itu pihak istana kepresidenan meminta Elly menyerahkan pasfoto yang tidak berkerudung agar terlihat rambut dan telinganya. Permintaan itu ditolak Elly, karena baginya berjilbab itu prinsip. Elly sempat jengkel, karena sebuah aturan diskriminatif ternyata masih diberlakukan di era reformasi ini. Siapa Elly? Saat itu Elly adalah salah satu wartawati Kompas yang berjilbab.
Meski Kompas berusaha meminimalisir kesan sebagai media non Islam yang ‘memusuhi’ Islam, nampaknya sulit menghilangkan label yang entah sejak kapan terlanjur melekat. Secara sosio-psikologis sebenarnya Kompas sama saja dengan Koran Tempo, Rakyat Merdeka, Suara Merdeka, Media Indonesia, Jawa Pos dan sebagainya. Jika kemarahan umat Islam lebih sering tertuju pada koran yang dipimpin Jacob Oetama ini, tentulah bukan karena terbesar tirasnya, sehingga terbesar pula pengaruhnya dibanding koran-koran lain. Tetapi, “ideologis” Kompas memang sulit diingkari, lebih sering menyerang rasa keadilan dan menyayat hati umat Islam.
Diskriminatif
Dalam kasus eksekusi mati Tibo dkk, misalnya, Kompas hampir seratus persen menjadi corong bagi mereka yang menolak eksekusi mati terhadap Tibo dkk, sebagaimana tercermin melalui berbagai opini yang dipublikasikannya. Dalam pemberitaan, Kompas hampir tidak pernah memberikan ruang bagi mereka yang pro eksekusi mati Tibo dkk. Padahal, sudah jelas Tibo dkk membunuh ratusan santri ponpes Walisongo, Poso, dengan tangannya sendiri. Dalam hal Tibo dkk hanyalah wayang yang dimainkan aktor intelektual, itu lain persoalan. Yang jelas secara pidana Tibo dkk memang terbukti membantai ratusan orang. Keberpihakan terhadap mereka yang kontra eksekusi mati Tibo, menunjukkan bahwa sebagai media nasional Kompas tidak punya hati nurani. Kompas bukan saja mengabaikan amanat hati nurani rakyat yang menjadi mottonya, tetapi juga telah melukai rasa keadilan umat Islam.
Pembantaian terhadap umat Islam di Ambon dan Poso, justru digerakkan dan diberkati oleh Gereja, karena umat Nasrani di sana merasa sebagai pihak mayoritas. Menjelang eksekusi mati terhadap dirinya, Tibo mengungkapkan Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST), pimpinan pendeta Damanik, yang berpusat di Tentena ini, terlibat dalam pembantaian umat Islam Poso.
Contoh lain, dalam kasus pro-kontra RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Kompas jelas-jelas mengambil posisi kontra RUU-APP. Berbagai pemberitaan yang berkenaan dengan itu memperlihatkan dengan jelas bahwa Kompas diskriminatif. Opini yang ditampilkan juga berpihak. Misalnya, Kompas edisi 29 Maret 2006 menampilkan opini Siswono Yudhohusodho berjudul Negara dan Keberagaman Budaya. Siswono yang pada intinya menolak RUU APP karena menganggapnya salah satu produk hukum yang sangat beraroma Syari’at Islam. Menurut Siswono, “…Sebagai konsekuensi negara kesatuan (unitarian) yang menempatkan seluruh wilayah negara sebagai kesatuan tunggal ruang hidup bangsa, sebuah RUU juga harus didrop bila ada satu saja daerah yang menyatakan menolaknya karena tidak cocok dengan adat istiadat dan budaya setempat. RUU APP sudah ditolak di Bali dan Papua.”
Argumen Siswono jelas terlihat dungu. Ia tidak saja mengabaikan konsep demokrasi, tetapi mendorong munculnya tirani minoritas atas mayoritas. Bukankah Bali dan Papua minoritas? Melalui opininya itu, Siswono melalui sengaja menekankan supaya umat Islam yang mayoritas bila hendak membuat aturan bagi umat Islam, harus terlebih dulu meminta persetujuan masyarakat Bali dan Papua. Bila mereka menolak, berarti aturan itu harus juga ditolak sebagai konsekuensi dari konsep unitarian (negara kesatuan). Sebaliknya, bila orang Papua mau berkoteka, atau bila umat Hindu Bali mau menjalankan ritual musyriknya serta memaksakan penerapan ‘syariat’ Hindu kepada non Hindu di Bali, itu harus didukung dalam rangka melestarikan keluruhan budaya bangsa.
Logika dungu seperti itu, dipublikasikan Kompas, tentu bukan tanpa maksud. Tidak bisa disalahkan bila ada yang menafsirkan hal itu dilakukan Kompas dalam rangka memprovokasi umat Islam. Patut juga dipertanyakan, apa kualifikasi yang dimiliki Siswono sehingga gagasan dan logika dungunya layak ditampilkan di Kompas, dan dalam rangka mewakili kalangan siapa?
Ketika wacana Perda Syari’at mengemuka, Kompas lagi-lagi menempati posisi strategisnya, yaitu menolak! Dalam kaitan ini, Kompas mempublikasikan argumen dan logika dungu untuk memprovokasi, kali ini dengan menampilkan Eros Djarot, yang tidak jelas apa kualifikasi yang dimilikinya sehingga ditampilkan sebagai salah satu suara yang layak didengar.
Bermunculannya kelompok dissident akhir-akhir ini seperti barisan Try Soetrisno, Gerakan Revolusi Nuraninya Tyasno Sudarto, Megawati dengan PDIP-nya, Gus Dur dll, dipublikasikan guna mengantisipasi penegakan Syari’at Islam dengan mempromosikan nasionalisme, kebhinekaan dan sekularisme. Termasuk, pemikiran neo komunisme gurubesar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Masykuri Abdillah bahwa sekularisasi politik merupakan hal yang tak dapat dihindari. Namun, proses sekularisasi di Indonesia hendaknya tetap disesuaikan dengan budaya bangsa Indonesia yang masih memiliki orientasi keagamaan tinggi (Kompas 4/1). Bukankah pemikiran ini hendak menggeser peran agama hanya sebagai pelengkap saja?
Perda Syari’at & RUU APP
Pada Kompas edisi 12 Juni 2006, Eros Djarot melalui opininya berjudul Saatnya Duduk Bersama menyimpulkan, perda bernuansa syari’at adalah bagian dari nafsu politik membangun negara di dalam negara, dan perda syari’at adalah gambaran Indonesia yang amburadul. Perda syari’at juga dinilai Eros sebagai “hukum lain” di luar hukum positif.
Eros Djarot bukan pakar hukum, sehingga tidak mengerti bahwa menyerap hukum Islam ke dalam hukum positif adalah merupakan salah satu kaidah terbentuknya hukum positif. Tentu aneh dan janggal bila hukum positif di tengah masyarakat yang mayoritas Islam bersumber dari hukum-hukum yang diterbitkan oleh kolonialis dan imperialis. Apalagi, hukum Islam sudah diberlakukan bagi masyarakat Islam di kawasan Nusantara ini jauh sebelum kemerdekaan NKRI. Eros Djarot juga bukan pakar sejarah, sehingga ia tidak tahu bahwa orang Islam di Indonesia telah menerima dan menerapkan hukum Islam di dalam masyarakatnya secara menyeluruh, dan diperbolehkan pemerintah kolonial Belanda, jauh sebelum kemerdekaan. Fakta ini diungkapkan oleh pakar hukum bangsa Belanda, LWC Van Den Berg (1845-1927).
Sejak berkumandangnya wacana perda syari’at dan RUU APP, Kompas telah menjadi corong propaganda gerakan anti syariat dan anti Arab. Padahal, Arab dalam konteks sebagai etnik, bahasa dan nilai budaya, sudah menjadi salah satu anasir yang membentuk bangsa dan budaya Indonesia, sebagaimana Cina dan Hindu.
Ariel Heryanto dalam salah satu tulisannya berjudul Nadine, pada Kompas Minggu 30 Juli 2006, menyuarakan sikap anti Arab, seolah-olah istilah Arab digunakan untuk gagah-gagahan sebagaimana orang dungu menggunakan istilah asing (bahasa Inggris) supaya terkesan keren. Ariel menulis, “…Dulu istilah-istilah asing itu sering dipakai pada saat tidak diperlukan. Istilah itu sengaja dipilih pemakainya justru karena banyak yang tidak paham, supaya tampak keren atau hebat. Mirip istilah Arab yang sekarang mulai bertebaran dan naik pamornya di Indonesia. Atau istilah Sansekerta di zaman Orde Baru.”
Rupanya Ariel belum tahu, bahwa para orangtua kita dulu, meski tidak bisa membaca huruf latin, mereka banyak yang mampu membaca huruf Arab Melayu, sebagai konsekuensi dari masuknya Islam dan diterapkannya Syari’at Islam di banyak segi kehidupan.
Seharusnya Ariel bertanya kepada Alwi Shahab, wartawan senior Republika, yang pernah mengungkapkan catatan bahwa antara 1795-1801 di Betawi terbit koran umum yang oleh kolonial Belanda disebut koran inlander (pribumi) dengan menggunakan bahasa Arab Melayu. Sebelum tahun 1872, hampir semua naskah di Nusantara ditulis dalam huruf Arab, baik naskah berbahasa Sunda, Jawa, Melayu, maupun etnis lainnya. “Begitu luasnya bahasa Arab jadi bacaan sehari-hari, hingga mata uang yang dikeluarkan pemerintah kolonial bagian belakangnya tertulis dalam bahasa Arab-Melayu. Ini terjadi bukan hanya di Indonesia, tapi juga di negeri-negeri jajahan Inggris, seperti Singapura dan Malaya (kini Malaysia). Kala itu, hampir seluruh masyarakat buta huruf Latin, tapi melek huruf Arab.”
Kemampuan membaca huruf Arab-Melayu saat itu juga bisa dilihat pada warga Cina peranakan, yaitu keturunan Cina yang lahir di Indonesia. Kini, amat langka menemukan keturunan Cina di Indonesia yang bisa membaca huruf Arab-Melayu. Bahkan saat ini kita tidak pernah lagi menemukan media cetak untuk umum yang berbahasa Arab.
Artinya, proses de-Arabisasi sebagai bagian dari de-Islamisasi ini sudah berlangsung cukup efektif. Tetapi tudingan bahwa terjadi Arabisasi atau Islamisasi atas sejumlah Perda Anti Maksiat yang diproduksi daerah tertentu melalui mekanisme demokrasi sekuler, jelas memutarbalikkan fakta. Tidak sekadar memutarbalikkan fakta, isu Islamisasi dan Arabisasi sengaja diluncurkan untuk menutupi keadaan sebenarnya, yaitu gencarnya westernisasi dan yahudiisasi terhadap banyak segi kehidupan rakyat Indonesia.
Ariel juga seharusnya bertanya kepada kedua orangtuanya, mengapa mereka memberikan nama bagi anaknya yang mirip dengan nama orang bengis dari Israel yaitu Ariel Sharon? Kalau nama adalah do’a, apakah ketika memberikan nama Ariel Heryanto yang mirip dengan Ariel Sharon yang jahat itu, orangtuanya menginginkan agar anaknya (Ariel Heryanto) kelak bisa menjadi durjana seperti Ariel Sharon? Tentu tidak khan?
Tetapi yang jelas, sikap anti-Arab adalah sikap yang dimiliki Yahudi alias Israel. Salah satu contohnya adalah Goenawan Mohamad. Tulisannya berjudul RUU Porno: Arab atau Indonesia? yang dipublikasikan 8 Maret 2006, jelas menunjukkan hal itu. Ketika merespon RUU APP yang dicemoohnya sebagai RUU Porno, Goenawan Mohamad benar-benar menunjukkan sikapnya yang anti Arab. Hasilnya, ia memperoleh penghargaan Dan David Prize 2006 dari Universitas Tel Aviv (TAU) Israel. Tidak ada hadiah yang diberikan secara cuma-cuma, bukan? Siapa sangka, tahun berikutnya Ariel Heryanto bisa meraih hadiah serupa.
Kalangan Sepilis
Kalangan sepilis (sekularis, pluralis, dan liberalis) pernah berupaya melawan “Islam sektarian” dengan mensosialisasikan wacana Islam Warna-warni. Upaya ini dilakukan dengan amat serius, sampai harus mengeluarkan biaya milyaran rupiah untuk pasang iklan di televisi dan media cetak. Namun anehnya, mereka sendiri sulit menerima warna lain selain warna yang mereka sukai (warna sepilis). Kalau memang Islam itu Warna-warni, maka seharusnya mereka bisa menerima warna lain meski mereka tidak suka. Sebab yang mereka tidak suka belum tentu jelek bagi mereka. Dari fakta ini, maka terlihat dengan jelas siapa sesungguhnya yang sektarian?
Sebagai corong sepilis, dalam prakteknya Kompas juga tidak konsisten, karena hanya mau menerima opini dari satu warna saja yaitu warna sepilis. Paling sering Kompas dan antek-anteknya mempublikasikan opini dari Ulil, Sukidi, Nurcholish, Dawam, Gus Dur dan lainnya yang homo (sejenis) lainnya. Selama ini tidak terlihat Kompas punya itikad baik mau menyodorkan warna yang berbeda dengan menampilkan penulis yang terbukti mampu mematahkan argumen nama-nama tadi.
Mungkin Kompas berfikir sedang memberikan kontribusi di dalam menciptakan Indonesia yang damai dan santun dengan mempublikasikan tulisan (opini) yang disumbangkan para kaum sepilis. Patut diduga, diskresi itu justru membuat panas situasi. Jangan-jangan Kompas memang belagak pilon, sengaja menampilkan warna homo kaum sepilis, dengan dalih untuk mensosialisasikan Islam yang rahmatan lil alamin. Padahal sebenarnya Kompas sedang menyalakan kompor. Faktanya, damai tidak pernah wujud di Indonesia.
Kompas juga sangat berperan melahirkan tokoh nasional sekaliber Gus Dur (GD). Selama lebih dua dasawarsa Kompas rajin mempromosikan sosok GD sebagai tokoh moderat, demokratis, cendekiawan Muslim, penarik gerbong pembaharuan pemikiran Islam, bapak bangsa, dan sebagainya. Terbukti ketika Gus Dur jadi Presiden, Indonesia bukan tambah damai, malah tambah kacau. GD mulai kelihatan aslinya, tidak demokratis alias otoriter, keinginannya harus selalu dituruti seperti anak kecil, juga tidak Islami karena suka berselingkuh dan menjalankan prosesi musyrik ruwatan, suka jalan-jalan ke luar negeri menghamburkan uang negara. Kompas telah memberikan kontribusi signifikan di dalam melahirkan sosok yang kacau seperti GD ini. Kompas punya tanggung jawab moral terhadap kekacauan yang dibuat GD.
Selain Gus Dur, Kompas juga turut melahirkan dan membesarkan Nurcholish Madjid (Cak Nur). Seperti GD, Cak Nur disebut-sebut sebagai cendekiawan Muslim, penarik gerbong pembaharuan pemikiran Islam, Islam Moderat, dan sebagainya. Nurcholish Madjid, terbukti tidak punya kejujuran intelektual. Ketika Cak Nur menerjemahkan kalimah thoyyibah laa ilaaha illalloh menjadi tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar) , yang seharusnya berarti tiada tuhan selain Allah. Ketika itu, Cak Nur mengaku merujuk buku Ismail Faruqi yang mengatakan bahwa Allah itu semacam dewa air bagi kepercayaan Arab kuno. Padahal, sebagaimana dibantah Ridwan Saidi, Ismail Faruqi tidak pernah mengatakan bahwa Allah adalah semacam dewa air. Masih banyak kebohongan dan ketidak jujuran Cak Nur yang berhasil direkam dan dibantah umat Islam. Namun Kompas tetap saja mempromosikannya sebagai Cendekiawan Muslim yang moderat. Kompas telah memberikan kontribusi penting bagi lahirnya sosok pembohong dan tidak jujur ini.
Masih banyak sosok lain yang menjadi binaan Kompas, antara lain Dawam Rahardjo, yang suka bohong dan juga tidak punya kejujuran intelektual seperti Cak Nur. Kompas edisi Jum’at 22 Desember 2006, menampilkan kebohongan Dawam melalui tulisannya berjudul Ensiklopedia Nurcholish Madjid, “… Bahkan, tokoh-tokoh medioker ikut mentransformasi kritik menjadi fitnah yang mengacaukan masyarakat. Misalnya saja Hartono Ahmad Zais melaporkan bahwa Nurcholish Madjid telah mendefinisikan Tuhan secara baru, dengan mengatakan bahwa Nurcholish telah menyamakan Allah dengan Dewa Laut Bangsa Arab…”
Melalui opininya itu, Dawam kembali membela Cak Nur yang sudah mati. Kejahilan dan ketidak jujuran Cak Nur menerjemahkan laa ilaaha illalloh menjadi [i]tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar)[/i], seolah-olah fitnah yang disebarkan Hartono Ahmad Jais. Padahal, ketidak-jujuran dan kebohongan Cak Nur pada saat itu sudah berhasil dibuktikan kesesatannya sekaligus dibantah oleh banyak pihak. Perihal Cak Nur menerjemahkan kalimah thayyibah secara serampangan adalah fakta bukan fitnah. Cak Nur juga terbukti berbohong dengan menyebutkan bahwa di dalam buku Ismail Faruqi ada disebut bahwa Allah semacam dewa air bagi bangsa Arab kuno. Padahal tidak ada pernyataan seperti itu.
Agen Perusak
Selain tidak jujur, Dawam juga pendukung Marxisme. Pada acara Seminar Hak Asasi Manusia dan Kebebasan Beragama di Balai Sarbini Plaza Semanggi Jakarta, Jum’at 28 April 2006, Dawam adalah salah satu pembicara (pembicara lainnya adalah Pendeta Dr. Stephen Tong, Pendeta Benjamin F. Intan Ph.D, dan Prof J.E. Sahetapy SH MA). Peserta seminar hampir seluruhnya umat Nasrani (Kristen). Ketika itu, Dawam mengatakan: “Orang-orang Marxis itu ternyata orang baik-baik saja. Bahkan orang-orang Marxis itu kebanyakan humanis dan mempunyai etika yang tinggi. Jadi apa salahnya? Dari pada orang beragama tapi kerjanya menteror. Memecahkan masalah dengan teror, usul dengan teror. ” (sumber: Majalah Tabligh).
Padahal, PKI yang berideologi Marxis, di Indonesia telah membunuhi ulama beserta keluarganya, antara lain pada Peristiwa Madiun 18 Sepetember 1948. Di Kampung Gorang Gareng Madiun saja ada seratusan lebih ulama dan keluarganya yang dibunuh PKI yang Marxis itu. Genangan darah tebalnya bersenti-senti meter saking banyaknya ulama yang disembelihi PKI dalam Peristiwa Maidun itu.
Dalam kaitan yang sama, Dawam mengatakan, “…menurut pendapat saya yang mengganti Menteri Agama itu tidak mesti dari orang Islam, bahkan lebih baik kalau Menteri Agama itu dari golongan minoritas atau yang disebut golongan minoritas. Karena apa? Karena kalau dari golongan minoritas, misalnya Kristen, dia tidak akan berani melanggar hak-hak sipil, karena akan dikontrol oleh mayoritas. Sebaliknya kalau itu berasal dari kelompok agama yang mayoritas, wah, itu pasti dia cenderung untuk selalu melanggar, karena merasa berani dan merasa kuat, karena merasa dari golongan mayoritas. Padahal di Indonesia itu tidak ada golongan mayoritas dan minoritas. Semua sama di depan hukum. ” (sumber: Majalah Tabligh).
Ocehan Dawam bombastis dan tidak sesuai dengan realitas. Faktanya, ketika Timor Timur masih menjadi bagian dari NKRI, dan Kepala Kanwil Departemen Agama di Timor Timur beragama Katolik, sang pimpinan melarang karyawannya yang beragama Islam melaksanakan khutbah Jum’at di masjid. Pengakuan tersebut disampaikan para karyawan kepada rombongan wartawan Islam dari Jakarta yang saat itu sedang berada di Dili, Timor Timur. Lantas, apa yang akan terjadi bila Menteri Agama RI dijabat orang Kristen atau Katholik?
Dari beberapa gambaran di atas, maka kita pun bertanya, benarkah Kompas membawa missi amanat hati nurani rakyat? Rakyat yang mana dan di mana? Dengan melahirkan dan membesarkan para pendusta agama, menyebarluaskan pemikiran sekuler dan anti Syari’at Islam, Kompas bukannya memberikan kontribusi bagi terciptanya Indonesia yang damai dan bermartabat. Sebaliknya, apa yang dilakukan Kompas justru menjadi agen perusak moral, perusak persatuan-kesatuan, dan secara provokatif menanam benih permusuhan. Ibarat menyalakan api kompor yang siap membakar apa saja, kapan saja, dan di mana saja di negeri ini.
Majalah RISALAH MUJAHIDIN No. 5 Th I Muharram 1428 H / Februari 2007, hal. 26-32.
sumber :http://www.swaramuslim.net/more.php?id=5482_0_1_0_M
March 27, 2007 at 11:52 am
bilang aja elu iri ama nama2 besar diatas.
masalahnya elu kecil sih….kalo elu demokratis pasti bisa besar…
March 31, 2007 at 7:05 pm
Ini namanya kecemburuan kalau memocokkan Islam pasti dimusuhi, kalau memeluk islam pasti deh dapat sanjungan. Kan ini semuanya permainan politik manusia munafik.
May 5, 2007 at 1:10 am
tolong di tambah contoh naskah nya khotbah jum’at yg bnr2 naskah khotbah dg tulisan arab dan indonesianya………………………!!!
July 24, 2007 at 12:00 pm
ORANG YANG PALING KAFIR DAN PALING MUNAFIK ADALAH ORANG ARAB/KEARAB-ARABAN SESUAI AT TAUBAH (9) AYAT 97, DEMIKIAN KATA NABI SUCI MUHAMMAD DIDALAM KITAB SUCINYA DALAM MENYAMPAIKAN SABDA ALLAH PADA TAHUN ENAM RATUSAN MASEHI.
WASALAM, SOEGANA GANADAKOESOEMA, PEMBAHARU PERSEPSI TUNGGAL AGAMA MILLENNIUM KE-3 MASEHI.
July 30, 2007 at 6:33 am
saya setuju dengan tulisan ini, karena saya memang anti koran Kompas, yang sebenarnya tukang bikin onar. Agenda mereka sangat jelas, mengkafirkan orang-orang Muslim dengan memaksakan gaya hidup Jawa-Kejawen. Salah satu sasaran mereka, adalah orang Sunda dan Minang yang selama ini identik dengan Islam fanatik. Saya sendiri selalu menjauhi membaca Kompas.
August 17, 2007 at 7:53 am
Di Forum Religiositas Agama, saya menemukan artikel yang menarik sekali. Ini situsnya: http://hatinurani21.wordpress.com/
MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN?
Pengantar
Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)
Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
- Bs. Belanda selama 300 tahunan
- Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
- Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
- Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
- Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).
Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
Gerilya Kebudayaan
Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
- Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
- Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
- Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
- Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
- Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
- Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
- Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
- Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!
- Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai
- Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!
- Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
- Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!
- Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).
- Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!
- Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!
- Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!
Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa
Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:
- Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
- Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.
- Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
- Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
- Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?
- Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!
- Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
- Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.
Penutup
Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.
Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.
August 19, 2007 at 3:01 pm
Kalau menurut aku, percuma mengedepankan wacana semacam ini. Hasilnya pastilah debat kusir yang tak berujung pangkal. Saya dah mahfum kalau masing-masing sudah bak badak yang hanya mampu (hanya mau) melihat secuil dari fakta dan realita yang terpapar. Yang lain pasti diseruduk tanpa ba atau bu.
Kalau sudah ngotot bahwa 1+1=5 maka hampir mustahil kita mendebatnya bahwa satu apel ditambah satu apel sama dengan dua apel. Mereka akan berkilah: Tapi khan ada dua jeruk dan satu kesemek. Itu juga mesti dihitung.
September 27, 2007 at 8:05 am
Untuk mengembalikan budaya Indonesia Bhinneka Tunggal Ika yang agamais dari pengaruh kebudayaan timur tengah / arab masa kini 2005-2007, maka bangsa Indonesia wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan hujjah Nabi Muhammad saw. didalam kitab sucinya:
1. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Datngnya Allah menurunkan Hari Takwil Kebenaran Kitab.
2. Fushshilat (41) ayat 44: Datangnya Allah menjadikan Al Quran dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa Arab.
3. Thaha (20) ayat 114,115: Datangnya Allah menyempurnakan pewahyuan Al Quran berkat do’a ilmu pengetahuan agama oleh manusia.
4. Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22: Datangnya kebangkitan semua manusia dengan ilmu pengetahuan persepsi tunggal Agama Allah
5. Al Baqarah (2) ayat 148: Datangnya Allah PASTI mengumpulkan ilmu pengetahuan agama dengan persepsi tunggal agama bagi persepsi agama yang bermacam-macam.
6. An Nashr (110) ayat 1,2,3: Datangnya Allah menciptakan Agama Allah sebagai wadah masuknya manusia berbondong-bondong dengan persepsi tunggal agama-agama.
7. Ali Imran (3) ayat 19.81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208: Datangnya Allah menyempurnakan agama disisi Allah adalah Islam menjadi Agama Allah.
8. At Taubah (9) ayat 97: Kesemuanya ini datang diturunkan di Negara Kesatuan Republik Indonesiaada awal millennium ke-3 masehi dan PASTI ditolak oleh orang kearab-araban.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
October 22, 2007 at 8:34 am
Saya setuju dengan hatinurani21 bahwa orang2 jawa perlu merenung sejenak untuk berintrospeksi diri mengapa negara kita semakin lama justru semakin hancur, semakin merosot moralnya, dan yg terjadi hanya kekerasan saja. Bandingkan dengan kejayaan leluhur kita terdahulu, mulai dari kerajaan sriwijaya, disambung dgn kerajaan majapahit dan kemudian merdekanya Indonesia. Saya meyakini karena konsep-konsep leluhur telah tereliminasi secara halus oleh agama/budaya dari asing khususnya dari bangsa Arab. Niscaya kalau orang-orang jawa sekarang kembali mengingat2 ajaran leluhur, saya yakin Indonesia akan berjaya. Capek rasanya kita selalu berdebat tentang agama apalagi berdebat surga dan neraka. Saya mengajak orang-orang bahwa biarlah surga dan neraka hanya Tuhan yg mengetahuinya dan menentukannya. Mari kita berkontribusi positif untuk membangun bangsa, memikirkan kemajuan ekonomi dan ilmu pengetahuan walaupun pengetahuan itu berasal dari barat, afrika, arab, amerika, india, china , rusia dll. Kalau bangsa kita sudah maju, rakyat sejahtera, dan mendahulukan kebahagiaan hidup kita di bumi sekarang, barulah nanti memikirkan kebahagiaan akhirat. Mari kita bergerak setahap-demi tahap dgn cara berbuat baik, berkata baik, dan berpikir baik untuk keharmonisan alam nusantara. Jayalah Nusantara.
November 24, 2007 at 7:35 am
Untuk menyelesaikan perselisihan persepsi antara agama-agama dan didalam agama yang telah terpecah-belah menjadi 73 golongan bahkan menjadi-jadi banyaknya perselisihan, menurut hadits Rasulullah SAW., maka telah diterbitkan buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
berikuti 4 buah lampiran acuan:
“SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
hasil karya tulis otodidak penelitian terhadap kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
“SOEGANA GANDAKOESOEMA”
dengan penerbit:
“GOD-A CENTRE”
dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
“DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
January 28, 2008 at 10:13 am
apa pada ga tau kenapa leluhur kita pada akur?
itu karena mereka ga baca KOMPAS
cuma kompas yang sepakat umat islam pada berkelahi (berbantah-bantahan). Bicara islam bicara Al Quran dan Sunah bukan kebudayaan. mari meninjau dengan Al Quran dan Sunah. Apabila kedua sumber ini tidak dianggab benar maka BAGIMU AGAMAMU BAGIKU AGAMAKU. Kepercayaan terhadap TUHANmu bukan seperti Kepercayaan tehadap TUHAN yang Al Quran sebut sebagai TUHAN seluruh alam dan seluruh umat manusia 4WI SWT.
kemuliaan 4WI yang maha pengasih lagi maha penyayang tidak akan hilang dengan seruanmu wahai pemikir Kompas (jangan menjadi hidupmu sia-sia dengan mencemooh kami umat islam karena itu tidak akan menghinakan kita dan sadarlah kamu telah mencemooh kami).
Pecinta 4WI SWT dan Muhammad SAW, Agung MUktinugroho, pembaca tanpa membeli koran kompas.
March 18, 2008 at 10:51 am
Tulisan Arab Melayu (ARMEL) telah dilupakan banyak pihak, khususnya dunia usaha dan dunia kerja. Saat ini anak-anak sekolah SD & SMP di Riau masih mempelajari penulisan tersebut.
Menurut kami, ada beberapa pola untuk melestarikan armel, salah satunya lewat siklus ekonomi. Setiap ada kebutuhan pasti ada suplai, rumus ekonomi inilah yang sebaiknya digunakan oleh Pemda untuk melestarikan armel.
Sebagai contoh bila administrasi intern perkantoran pemda Riau semuanya menggunakan aksara arab melayu dengan sendirinya akan ada kebutuhan editor arab melayu yang bisa link dengan MS Office dan bisa digunakan disemua bentuk komputer saat ini. Contoh detailnya lagi bila regulator yang dikeluarkan oleh pemda seperti Izin-izin, Akte Kelahiran, KK, KTP, SIM, IMB, SIUP,SITU dan sebagainya diterbitkan dalam aksara melayu dengan sendirinya kita dapat melestarikan aksara tersebut karna dibutuhkan ditingkat dunia kerja.
Dengan demikian Armel tidak sebatas untuk dipelajari anak-naak selkolah semata, namun tetap dipergunakan sebagai media komunikasi didunia usaha dan dnuia kerja, yang dengan sendirinya akan lestari dan Riau dapat dijadikan pusat pelestarian arab melayu sesuai visi 2020 RIAU.
Sebagai langkah awal untuk mendapatkan Editor Arab Melayu secara cuma-cuma dapat menghubungi :
1. Lembaga Adat Melayu Riau dengan Bapak Suwarto hp. 08127638000.
2. IAIN Rianiry Banda Aceh dengan Bapak Cut Azwar hp.08566033901.
3. IAIN Medan/Sumut dengan Bapak Irwan Nasution 08126024032.
4. Balai Bahasa Sumut dengan Bapak Sihombing 08126054470.
July 4, 2008 at 3:27 am
Buku “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
Penulis: Soegana Gandakoesoema
Tersedia ditoko buku K A L A M
Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
Telp. 8573388
September 13, 2008 at 10:56 am
Jelangkung yang Menyesatkan
Edizal
Jelangkung, jelambek.
Hadirlah kau ke sini.
Datang kau tak dijemput, pergi kau tak diantar.
Kira-kira begitu ungkapan magis yang kami gunakan untuk mengundang roh halus manakala aku masih memamah bangku SMA di Padang dulu. Alat yang dipakai adalah keranjang plastik kecil yang bagian bawahnya berlubang-lubang, pensil, dan secarik kertas putih. Kami memegang keempat sisi keranjang yang di bagian bawahnya sudah dipasangi pensil.
Keranjang tersebut akan bergerak dengan sendirinya menuliskan huruf atau gambar di atas kertas putih menanggapi pertanyaan yang diajukan, sesuatu yang sangat menggetarkan hati.
Jelangkung ini punya kemampuan yang luar biasa sehingga dapat mengetahui dan menjawab pertanyaan yang disampaikan. Bisa ditanyakan adakah seseorang itu mencintai kita atau tidak dan sebagainya. Jadi, jelangkung berlaku laiknya seorang nabi yang bertindak sebagai perpanjangan tangan Tuhan menyampaikan pesan terhadap umatnya.
Wasiat yang disampaikan sang jelangkung ini diamini oleh banyak orang yang melakukannya, termasuk saya waktu itu dan orang muda lain atau orang yang benaknya kurang tersentuh oleh ilmu logika. Bagi mereka yang memercayai kemampuan roh halus lewat jelangkung sering menyandarkan keputusan hidupnya pada permainan yang kental mistis ini.
Praktik ini hanyalah satu dari banyak media yang dipercayai mampu mendatangkan roh halus untuk merundingkan sesuatu atau mengusir penyakit yang menghinggapi seseorang, seperti juga shamanisme atau kedukunan yang memainkan peranan penting dalam masyarakat primitif untuk berkomunikasi dengan makhluk halus.
Bahkan dalam masyarakat yang sebelah kakinya sudah berada dalam ranah modern dan sebelahnya lagi masih berada di ranah primitif seperti Indonesia, fenomena ini masih terlihat jelas lewat nyanyian, tarian, meditasi, dan sebagainya baik di dusun maupun kota.
Tarian Angguk yang berkembang di Yogyakarta yang sarat dengan kemistisan hanyalah salah satu produk saja dari hadirnya kegiatan berhubungan dengan roh halus di kota besar. Agaknya lagu dalam kategori dangdut dan rock ‘n’ roll atau tarian breakdance dengan kepala yang berputar-putar di lantai belum lagi disukai oleh roh halus sehingga tidak dimasukkan ke dalam daftar media yang bisa digunakan.
Pada waktu mengikuti perkuliahan di UPI, Bandung, aku bekerja sambilan di sebuah percetakan kecil untuk penambah-nambah biaya hidup. Seorang teman lama yang kuliah di ITB kadangkala datang berkunjung ke kos saya dan beberapa kali kuajak melihat-lihat percetakan kami.
Suatu hari terjadi kehebohan di percetakan tersebut karena uang dalam tas raib tanpa bekas. Malangnya, teman lamaku tersebut kebetulan berada di sana saat itu sehingga termasuk salah seorang yang penting dicurigai sebagai pelakunya.
Suasana yang tidak menyenangkan harus kutahan atas sorotan tajam mata kemarahan banyak orang di percetakan ke arahku karena ketegasanku menolak tuduhan terhadap teman tersebut. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa dia adalah orang yang berhati baik dan berasal dari keluarga sembada yang tidak pernah kekurangan uang. Akhirnya, orang-orang yang berada di sana memutuskan minta bantuan Tuhan lewat pembacaan ayat Qoran untuk mencari tahu siapa gerangan yang menilap uang tersebut.
Seutas tali yang di ujungnya dikebatkan ke kunci diselipkan di antara halaman Qoran yang tebal. Empat orang dari kami menengadahkan masing-masing satu telapak tangan dan di atasnya ditempatkan Qoran tersebut sehingga sang kunci berada dalam posisi menggantung. Pengadilan pun dimulailah. Salah seorang dari kami menyebutkan nama seseorang dan membacakan ayat kursi dalam bahasa Arab yang artinya tidak kupahami (mungkin juga oleh yang lainnya).
Sang kunci hampir tidak bergeming ketika nama orang lain dan ayat kursi selesai dibacakan, tapi sang kunci cukup antusias menggoyang-goyangkan badannya manakala giliran nama temanku disebut. Ini membuatku sangat terpana dalam ketidakpercayaan.
Aku sadari betapa mengemukakan sanggahan atas putusan ala-jelangkung lewat pembacaan Qoran tersebut punya risiko yang tinggi karena sama saja artinya dengan menolak titah Tuhan yang didukung oleh mainstream masyarakat. Sudah ada asumsi sebelumnya bahwa tidak mungkin Tuhan mendustakan umatnya lewat penggunaan sabdanya.
Namun, aku tidak bergeming atas kepercayaan diri yang berakibat aku dijauhi. Itu merupakan suatu konsekuensi logis atas resistensi yang menyebabkan aku kehilangan konsituen. Untungnya semua orang itu cukup waras dan tidak memerkarakan teman tersebut karena hakim korup sekalipun tidak akan mau menerima perkara yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara kasat mata.
Sekitar dua hari berselang sesudah pembacaan ayat suci Qoran itu, muncul lagi kehebohan baru. Belakangan ibu warung yang ada dekat percetakan kami merasa heran atas seringnya seorang anak laki-laki murid SD jajan di sana padahal sang anak berasal dari keluarga kebanyakan.
Bertanyalah si ibu warung kepada ibu sang anak untuk melenyapkan keheranannya. Karena tidak pernah memberikan uang jajan banyak kepada sang anak, orang tua tersebut menginterogasinya dan beroleh jawaban bahwa uang tersebut ditemukannya dalam tas yang ada di percetakan kami.
Kejadian tersebut ikut menghancurkan keyakinan dan melenyapkan ketakutanku atas hal-hal yang berbau mistis, tapi perlu waktu yang panjang pula sampai menemukan jawaban secara empiris apa sebenarnya yang berada di balik misteri irasional tersebut. Televisi NHK Jepang yang menayangkan programa yang berkaitan dengan jelangkung awal musim gugur tahun lalu menguakkan kabut misteri yang terpendam dalam benakku bertahun-tahun itu.
Kokkuri-san, kokkurisan.
Otsuri kudasare.
Saa saa hayaku otsuri kudasare.
Ungkapan magis kokkurisan (jelangkung) di atas digunakan oleh orang-orang Zaman Meiji (1868-1912) yang praktiknya pertama kali diperkenalkan oleh marinir Amerika yang berlabuh di Kota Shimoda, Provinsi Shizuoka, tahun 1884.
Orang Amerika menggunakan istilah “table-turning” untuk menunjukkan permainan ini dan alat yang digunakan ialah meja berkaki tiga yang tidak stabil kedudukannya. Tiap orang meletakkan sebelah tangannya di atas meja tersebut tanpa memberikan beban atau tenaga di atasnya. Apabila jawaban atas suatu pertanyaan bersifat positif, maka sang meja akan mencondongkan badannya secara otomatis.
Boleh jadi marinir Amerika memperkenalkan jelangkung ini hanya sebagai permainan belaka, tapi orang Jepang menghubungkannya dengan kekuatan gaib yang memengaruhinya. Karena dipahami adanya roh halus yang bekerja di dalamnya, keberadaan kitsune (rubah) yang sering dianggap punya kemampuan supranatural dan tanuki (cerpelai) yang sering dianggap bisa berubah bentuk disembulkan. Dengan demikian, penulisan huruf kanji dari nama binatang tersebut digunakan untuk menamakan permainan baru ini menjadi kokkuri yang dibentuk dari huruf kanji nama kedua binatang tersebut.
Alat yang digunakan untuk jelangkung pada Zaman Meiji itu beragam, termasuk yang terbuat dari tiga bambu yang diikatkan menyilang membentuk kaki meja dan di atasnya ditaruh baki atau tutup periuk.
Tahun 1885 permainan tersebut menjadi sangat populer yang merambah ke seluruh Jepang dan ini pun ditulis oleh Harian Asahi pada waktu itu. Ada semacam kontradiksi karena pada masa itu ditengarai dengan gairah yang tinggi memperoleh teknologi Barat dalam proses modernisasi sementara hal yang bersifat mistik ini pun diadopsi pula.
Kehadiran kokkurisan yang dimanfaatkan untuk menanyakan cuaca, hasil panen, dan sebagainya itu menjadi pemicu timbulnya permasalahan sosial. Seorang laki-laki naik darahnya ke ubun-ubun sehabis diinformasikan oleh kokkurisan bahwa positif istrinya main serong dengan laki-laki lain sehingga minta cerai.
Keadaan sosial yang tidak sehat ini membuat Enryo Inoue, seorang filsuf yang juga berkecimpung dalam ranah psikologi, turun tangan untuk mengkaji gejala gaib ini dalam upayanya memodernisasikan pikiran orang Jepang masa itu. Terlihat betapa alat ini akan bengong saja kalau tangan-tangan tidak diletakkan di atasnya atau meja berkaki empat yang digunakan. Karakteristik lain alat ini adalah hanya bisa bergerak untuk menanggapi “yes-no question” saja dan hilang akal kalau ditanyakan peristiwa apa yang bakal terjadi di masa mendatang.
Kajiannya lewat observasi yang teliti tersebut memberikan kesimpulan bahwa kokkurisan itu bergerak bukanlah karena dimasuki roh halus, melainkan digerakkan oleh otot bawah sadar peserta sendiri. Hal ini dimungkinkan oleh pasokan informasi sebelumnya ke dalam otak berdasarkan keinginan diri yang menyusup dalam alam bawah sadar sehingga alat tersebut bergerak seolah-olah tanpa pengaruh otot manusia.
Manakala arus spiritualisme modern dari Amerika mengaliri Eropa pada musim salju tahun 1852-1853, jelangkung merupakan media yang paling populer digunakan untuk berkomunikasi dengan roh halus. Karena tradisi berpikir yang kuat orang Eropa yang didasarkan atas adagium “ilmu lahir dari pertanyaan yang muncul dari keingintahuan”, banyak ilmuwan segera saja merenung dan mencari jawab atas fenomena gaib tersebut.
Misalnya, Asparin dan Profesor Thury dari Swiss menarik kesimpulan bahwa gerakan meja tersebut disebabkan oleh kekuatan fisik yang berasal dari badan peserta sendiri yang mereka namakan “ectenic force”.
Sementara itu Michael Faraday, ahli kimia dan fisika Inggris, tahun 1853 menggelarkan simpulannya bahwa gejala tersebut disebabkan oleh gerak otot bawah sadar dan ini setali dengan teori yang dikemukakan oleh Enryo Inoue. Tidak diketahui adakah Enryo Inoue mengemukakan simpulannya selepas membaca penelitian Michael Faraday yang sudah muncul 30 tahun sebelumnya.
Menyebarnya teori Enryo Inoue akan fenomena yang sonder nilai kebenaran tersebut menyebabkan sosok jelangkung kian menghilang di seluruh Jepang. Walau ada yang masih melakukannya dengan berbagai variasi (khususnya dengan koin) terutama dalam kalangan anak muda, itu hanyalah sebagai hiburan atau permainan belaka tanpa dipercayai adanya kekuatan gaib yang memengaruhinya.
Dibandingkan dengan bangsa Jepang yang sudah maju, bangsa kita masih terjerat kakinya dalam lecah berbagai takhyul yang menakutkan dan ini memengaruhi perkembangan benak manusia Indonesia. Banyak orang yang percaya dunia halus yang bisa ikut campur urusan dunia fana sehingga mereka merasa harus berbaik-baik atau menyenangkan hati roh halus.
Seringkali pula seorang perantara (dukun) menjadi penting sebagai penyampai pesan tersebut. Kepercayaan ini banyak menenteramkan hati manusia yang kemampuan logikanya masih rendah dalam memahami gejala alam, namun menjadi penghambat kemajuan Indonesia yang terus tertinggal jauh dari negara maju.
Orang tua Indonesia yang berpikiran purba mewariskan takhyul kepada anak-anaknya dan kemudian diteruskan lagi kepada cucu-cucunya. Kebiasaan atau pandangan hidup yang sudah mendarah daging akan sukar lenyapnya. Namun, sejalan dengan geliat waktu, lambat laun mata rantai informasi negatif ini akan terputus dengan sendirinya apabila anak-anak diajar berpikir kritis dengan memanfaatkan nalarnya seoptimal mungkin.
Orang dewasa perlu lebih aktif menebarkan pengetahuan yang bersifat empiris seluas mungkin dan bukannya terus-menerus memasok pengetahuan yang mencacati otak generasi muda.
Kecerobohan orang masa lampau yang telat berevolusi, mencampuradukkan antara yang nyata dan yang ilusi, mestinya tidak diikuti. Jelas tidak berdosa menguakkan sesuatu yang bersifat irasional demi masa depan generasi muda. Dengan begitu, kelak kita akan bisa menikmati rangkaian prosesi kematian kebiasaan atau ideologi yang menodai pikiran masyarakat kita, termasuk jelangkung yang menyesatkan ini.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 2002), “jelangkung” diartikan sebagai “Boneka (orang-orangan, yang dilengkapi alat tulis di tangan, digunakan untuk memanggil arwah, dan jika arwah itu telah masuk ke dalam boneka tersebut diadakan tanya jawab, jawaban sang arwah diberikan melalui tulisan tangan boneka itu)”.
Andai ahli bahasa, ahli kedokteran, ahli kimia, dan sebagainya yang menjadi tulang punggung pembuatan kamus besar ini sepakat bahwa makna “jelangkung” tersebut menyesatkan bagi seluruh rakyat Indonesia, maka pemaknaan tersebut haruslah diganti secepat mungkin dengan memasukkan kata, misalnya, “… yang terjadi akibat geliat otot yang bergerak di luar kesadaran manusia”.
Indonesia mesti lebih cepat meraup pengetahuan sebanyak mungkin dari negara maju dengan berbagai cara agar dapat menguakkan kegaiban apa yang bernaung di balik banyak misteri yang membuat kita hidup tersesat tanpa sadar di dunia nyata ini.
January 16, 2009 at 12:02 pm
Buku “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
Penulis: Soegana Gandakoesoema
Penerbit: GOD-A CENTRE
Bonus: “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI) berukuran 63×60 cm.
Mendapat sanbutan dari Departemen Agama Republik Indonesia, SekDirJen Bimas Buddha, Pendeta Nasrani dan tokoh Islam Pakistan.
Tersedia ditoko-toko buku distributor tunggal
P.T. BUKU KITA
Telp. 021. 78881850
Fax. 021.78881860
Salamun ‘alaikum daiman fi yaumiddin, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.